Seminar Nasional Agroforestri ke-5 dan Pekan Agroforestri Nasional ke-1

Acara
SUSUNAN ACARA

Selasa, 28 Oktober 2014

Pekan Agroforestri

“Photo session” akan menampilkan hasil pemotretan pada lomba foto. Foto-foto akan dipajang di dalam ruangan seminar (indoor) dan foto-foto Kota Ambon (Ambon Photo Club dan Maluku Photo Club).
“Agroforestry product stand” merupakan pameran produk agroforestry akan dipajang di luar areal seminar (outdoor) pada tenda-tenda yang telah tersedia. Berbagai instansi terkait yang ada di Kota Ambon akan mengisi semua tenda yang tersedia (Dinas Pariwisata stand, Ronawiska Stand, Tehillah Stand, Pemkot Stand, Faperta stand, Diperindag Stand, Amadeus stand, dll)
“Papalele Stand” menghadirkan masyarakat yang akan menjual secara langsung produk-produk agroforestri seperti rujak natsepa dan berbagai hasil dusung/kebun lainnya di luar ruangan seminar (outdoor)
“Live Music Ethnic” menampilkan musik dan lagu-lagu tradisional Maluku seperti VG Unpatti, Unpatti Choir, suling bambu dan totobuang music (Sanggar Amahusu), traditional dance (Faperta dancer) dan penjualan CD/DVD lagu-lagu Maluku serta t-shirt Maluku di luar ruangan seminar (outdoor).

Pekan-AGROFORESTRI-4

Rabu, 29 Oktober 2014

1) Seminar (08.00-18.00 WIT)
W a k t u A c a r a
08.00 – 09.00 Registrasi
09.00 – 09.30 Pembukaanberupa pemukulan Tifa besar (penyalaan tulisan Seminar Nasional ke-5 Agroforestri dan backdrop berupa komposisi tanaman agroforestri)
09.30 – 09.45 Rehat
09.45 – 10.30 Keynote speaker
10.30 – 13.00 Presentasi Makalah Utama
13.00 – 14.00 Ishoma
14.00 – 17.30 Presentasi Makalah
17.30 – 18.00 Penyampaian Rumusan & Penutupan

2) Agroforestry Award dan Konser “MALUKU to Watch” (18.30-21.00 WIT)

Konser “Maluku to Watch” menampilkan artis-artis Maluku seperti Amadeus Choir (mainly artist); guest star: Zeth Lekatompessy dan Calakate Group dengan MC Cada membawakan lagu-lagu Maluku serta pembacaan puisi oleh Rudi Fofid.
“Agroforestry Award” berupa malam penganugerahan agroforestri kepada orang/ lembaga atau negeri/desa yang sangat peduli terhadap pengelolaan agroforestri/dusung (penilaian terhadap penerima penghargaan akan dilakukan oleh tim pakar agroforestri dari Universitas Pattimura).
“Maluku Dinner Reception” berupa jamuan makan malam (kuliner lokal).

Kamis, 30 Oktober 2014

Field Trip ke lokasi agroforestri tradisional masing-masingke negeri Hutumury dan tempat perlebahan di Desa Hila, diakhiri dengan foto bersama di lokasi gong perdamaian (downtown of Ambon City).

Seminar juga akan mempresentasikan ± 100 makalah secara simultan serta ± 20 poster, yang terbagi dalam 5 (lima) kelompok yaitu:

Sistem Pertanian Wilayah Kepulauan

Kondisi geografis wilayah kepulauan akan sangat berbeda dengan wilayah kontinental, terutama bila dilihat dari sisi luasan ketersediaan lahan untuk mengembangkan suatu usaha pertanian yang intensif. Iklim yang seragam dan cuaca yang fluktuatif dari pulau ke pulau, serta jenis tanah dengan sifat erodible dan tingkat kesuburan tanah yang rendah, mudah tercuci dengan ketebalan tanah yang rendah merupakan faktor-faktor pembatas pembangunan sistem pertanian di wilayah kepulauan.

Menerapkan pola pertanian di wilayah kepulauan diharapkan mempertimbangkan faktor ekosistem wilayah tersebut, sehingga dapat mengembangkan suatu model dengan pola yang sifatnya berkelanjutan. Terbatasnya lahan datar dengan kondisi kepulauan yang terisolasi satu dengan yang lain memberi peluang untuk mengembangkan pola pertanian lahan kering dengan komoditi unggulan yang kompetitif (R. Oszaer, 2012).

Selanjutnya, sistem pertanian di pulau-pulau kecil selayaknya mengadopsi konsep pertanian dengan input luar rendah dan agroekologi. Konsep ini menekankan prinsip-prinsip ekologi dalam pertanian dengan menempatkan usahatani sebagai relung ekologi yang mirip dengan alam yang berupaya mencapai keanekaragaman fungsional dengan mengkombinasikan spesies tanaman dan hewan yang saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergetik dan positif, sehingga kestabilan bisa diperbaiki, dan produktifitas sistem pertanian dengan input rendah.

Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari sub tema ini adalah:

  • Bagaimana membangun sistim pertanian dalam arti luas untuk diimplementasikan di wilayah kepulauanyang terdiri dari pulau-pulau kecil?
  • Apakah sistem agroforestri merupakan satu-satunya sistem pertanian tradisional yang tepat untuk dibangun di wilayah kepulauan?
  • Bagaimana pendekatan lanskapagroforestrimampu diterapkan kedalam agenda pembangunan berkelanjutan?

Agroforestri – Strategi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

Umumnya luasan dari suatu lahan agroforestri mengalami penurunan, sama halnya dengan luasan tutupan hutan baik hutan primer, hutan sekunder dan hutan untuk kebutuhan industri. Di lain pihak luasan tutupan lahan perkebunan semakin meningkat dari waktu ke waktu. ICRAF (2011) menyatakan bahwa dalam waktu 20 tahun (1990-2010) terjadi penurunan luasan hutan primer (undisturbed forest) sebesar 50%. Sementara itu luasan hutan sekunder (logged over forest) dan hutan industri (timber plantation) semakin meningkat mencapai 50% dan 75%. Dari hasil perhitungan ini, nampak bahwa laju deforestasi mendekati angka 1,8 juta ha/tahun, 1,20 juta ha/tahun, 0,85 juta ha/tahun masing-masing untuk tahun 1990-2000, 2000-2005 dan 2005-2010. Angka-angka ini mengakibatkan tingkat emisi nasional semakin besar yang disebabkan karena angka deforestasi atau yang semakin tinggi. Negara-negara berkembang berusaha keras untuk mempertahankan keutuhan hutannya agar dapat menekan emisinyadan meningkatkan cadangan karbon di luar kawasan hutan melalui sistem agroforestri. Agroforestri tersusun dari bermacam-macam jenis pohon dan tanaman bawah yang bervariasi umumnya, sehingga sistem ini relatif lebih aman dari resiko gagal panen dan lebih stabil terhadap goncangan pasar dan akibat perubahan iklim (Budidarsono et al, 2006; van Noordwijk et al, 2011). Selanjutnya agroforestri memberikan tawaran untuk mitigasi akumulasi GRK di atmosfer (IPCC, 2000), karena pohon yang ditanam petani memberikan manfaat secara ekonomi dan kadang-kadang memberikan nilai ekologi. Gas CO­2 sebagai salah satu penyusun GRK terbesar di udara diserap pohon dan tumbuhan bawah untuk fotosintesis, dan ditimbunnya sebagai C-organik (karbohidrat) dalam tubuh tanaman (biomassa) dan tanah (bahan organik tanah) dalam waktu yang lama, hingga mencapai 30-50 tahun. Selama tidak ada pembakaran di lahan, emisi gas karbon dioksida (CO2) ke atmosfer dapat ditekan.

Provinsi Maluku sebagai wilayah kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau kecil memiliki sistem agroforestri dalam pengelolaan lahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pulau sebagai suatu sistem pertanian yang telah turun temurun sangat membutuhkan SDM yang memiliki pengetahuan kehutanan dan agroforestri (agroforester). Di lain pihak perencanaan pembangunan daerah yang rendah emisi juga dapat dipertimbangkan sebagai aspek politis yang dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat pulau.

Sebagai gambaran terminologi dijelaskan bahwa adaptasi merupakan cara/upaya dalam menghadapi efek dari perubahan iklim, dengan melakukan penyesuaian yang tepat dengan melakukan upaya untuk mengurangi pengaruh merugikan dari perubahan iklim, atau memanfaatkan pengaruh positifnya (Nair, 2011). Sedangkan mitigasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyebab terjadinya perubahan iklim, yaitu dengan menyerap CO2 di udara dan menyimpannya dalam tanaman dan tanah baik dalam ekosistem hutan maupun pertanian dalam jangka waktu yang lama.

Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari sub tema ini adalah:

  • Bagaimanakah upaya-upaya yang tepat untuk mendorong pembangunan rendah emisi?
  • Berapa besar sumbangan agroforestridalam menekan tingkat emisi?
  • Cara/upaya adaptasi dan mitigasi seperti apa yang dapat dibangun untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim?

Investasi pada Lanskap Agroforestri untuk Multi Produk dan Jasa.

Investasi skala besar dan kecil di Indonesia masih bertumpu pada pertumbuhan ekonomi yang bersifat eksploitatif terhadap sumberdaya alam, menyebabkan terjadinya deforestasi dan degradasi yang menyumbangkan emisi dan terjadinya pemanasan iklim secara global. Inovasi yang perlu dikembangkan adalah pembangunan berbasis “green economics (GE)” yaitu pembangunan yang menghasilkan karbon rendah, tidak merusak modal alam dan modal sosial namun tetap menghasilkan pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat secara merata dan memperkuat daya saing bangsa.

Investasi dalam bentuk lanskap agroforestri sebagai bagian dari GE, diharapkan dapat menjamin penurunan emisi, terciptanya kelestarian sumberdaya alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada tingkat tapak serta dapat menjamin hasil multi produk berupa: hasil pangan dan keamanan pangan, hasil energi baru dan terbarukan untuk keamanan energi, hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Sedangkan jasa yang dapat dihasilkan dan memiliki nilai ekonomi tinggi adalah nilai karbon, pay environmental service (PES), ekowisata, biodiversitas, tanaman obat, tanaman hias, benih unggul, air bersih, pencegahan banjir, pencegahan kekeringan, pencegahan longsor, pencegahan abrasi pantai, melindungi pesisir/laut dan jasa-jasa lainnya.

Lanskap agroforestri dengan kerapatan tinggi (high density) memiliki nilai yang mirip dengan hutan alam primer. Di sektor kehutanan dikenal dengan isitilah“Social Forestry” yang lebih berorientasi pada adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan hutan untuk mengatasi konflik tenurial dan hak-hak sosial ekonomi masyarakat di tingkat tapak. Oleh karena itu, maka pengelolaan agroforestri dan social forestry dapat disebutkan sebagai “Lanskap Agroforestri”, dimana nilai investasinya dapat dikembangkan baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan, sekaligus dapat dipergunakan sebagai upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim di wilayah kepulauan terutama pada pulau-pulau kecil, seperti kepulauan Maluku, Nusa Tenggara, Riau dan wilayah lainnya.

Investasi dalam lanskap agroforestri harus dikembangkan dalam kawasan hutan yang sudah tertata dalam 600 unit kelola KPH (KPHP & KPHL), hutan konversi yang perlu ditata dalam KPHK dan Areal Penggunaan Lain (APL), dimana kesemuanya perlu ditata dalam unit-unit lanskap agroforestri.

Diskusi ini diharapkan dapat menjawab beberapa permasalahan atau pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

  • Kerangka investasi seperti apakah yang dapat dikembangkan sesuai dengan sumberdaya alam yang tersedia?
  • Upaya-upaya seperti apa yang dapat dibangun untuk mendorong partisipasi masyarakat?
  • Bagaimana upaya/cara mencegah degradasi sumber daya alam?
  • Bagaimana menghasilkan multi produk untuk pertumbuhan ekonomi hijau yang dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat secara luas?

Aspek Sosial Ekonomi-Budaya, Kearifan Lokal dan Kebijakan

Agroforestri dikenal sebagai ilmu baru karenabaru berkembang pada tahun 70-an, namun dalam prakteknya sudah lama dikenal oleh berbagai suku bangsa. Agroforestri adalah manajemen pemanfaatanlahan secara optimal dan lestari, dengan cara mengkombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian pada unit pengelolaan lahan yang sama, dengan memperhatikan kondisi lingkungan fisik, sosial, ekonomi, budaya dan peran serta masyarakat.

Program-program agroforestri biasanya diarahkan pada peningkatan dan pelestarian produktivitas sumber daya alam dan lingkungan, yang akhirnya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Manajemen agroforestri biasanya beragam karena disesuaikan dengan kondisi lahan dansosial-budaya dan ekonomi masyarakat dimana sistim agroforestriini diterapkan, serta dapat mengoptimumkan tiga aspek penting seperti: produktivitas, sustainabilitas, dan adoptabilitas.

Dalam kehidupan masyarakat di berbagai tempat terdapat sejumlah nilai sosial budaya atau tradisi yang mengatur hubungan antara masyarakat dengan alam lingkungannya. Nilai sosial-budaya ini merupakan wujud dari kearifan masyarakat dalam menjaga keserasian dan keharmonisannya dengan alam lingkungan. Nilai-nilai tersebut berkaitan dengan kepemilikan dan kegunaan lahan seperti pola dusung (agroforestri tradisional) yang banyak dipraktekan oleh masyarakat pada pulau-pulau kecil seperti di Maluku.

Kontribusi sistim agroforestri bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat relatif sangat tinggi dan berkesinambungan,karena sistim ini memiliki kekhususan antara lain:

  • Jenis-jenis yang ditanam atau dipelihara memiliki nilai komersial serta pasar yang jelas, baik berupa kayu-kayuan, buah-buahan, tanaman pangan dan sebagainya. Keragaman atau diversifikasi jenisatau hasil yang ada menyebabkan ketahanan terhadap fluktuasi harga dan jumlah permintaan pasar.
  • Jenis-jenis hasil/output yang beragam dan berkesinambungan, bahkan produksinya dapat diatur menjadi lebih merata sepanjang tahun. Beberapa jenis/output tertentu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat, seperti biaya sekolah anak, menikahkan anak, dan lain sebagainya.
  • Keperluan modal investasi yang relatif rendah, atau setidaknya investasi dapat dilaksanakansecara bertahap.

Kontribusi agroforestri dalam bidang sosial yaitu kesesuaian (adoptability) yang tinggi dengan kondisi pengetahuan, ketrampilan dan sikap budaya masyarakat petani karena system agroforestri memiliki :

  • Teknologi yang fleksibel, dapat dilaksanakan mulai dari sangat intensif untuk kondisi masyarakat yang sudah maju, sampai kurang intensif untuk masyarakat yang masih tradisional dan subsisten.
  • Kebutuhan input, prosespengelolaansampai jenishasil/output dari lahan agroforestri umumnya sudah sangat dikenal dan selalu dipergunakan oleh masyarakat setempat.
  • Filosofi budidaya yang efisien, yakni memperoleh hasil yang relatif besar dengan biaya atau pengorbanan yang relatif kecil.

Beberapa permasalahan penerapan sistim agroforestri dari aspek sosial,ekonomi,budaya/kearifan lokal, kebijakan dan kelembagaan antara lain :

  • Faktor-faktor sosial ekonomi apa saja yang terkait dengan sistim agroforestri?
  • Berapa besar kontribusi agroforestri terhadap pendapatan masyarakat setempat?
  • Bagaimana analisis biaya pengelolaan lahan berbentuk agroforestri?
  • Bagaimanakan analisis kelayakan terhadap usaha jenis-jenis tanaman dalam pola agroforestri?
  • Sejauh mana efektifitas kelembagaan dalam sistim agroforestri?
  • Bagaimana membangun kelembagaan agroforestri yang berorientasi bisnis?.
  • Bagaimana bentuk kelembagaan tradisional dalam pengelolaan agroforestri?
  • Pelunya identifikasi aspek sosial budaya dalam pengelolaan agroforestri?
  • Bagaimana bentuk-bentuk kearifan lokal dalam pemanfaatan lahan?
  • Bagaimana sistim kepemilikan lahan agroforestri?

Aspek Pendidikan

Isu-isu penting yang mempengaruhi pembangunan dunia saat ini adalah tingginya degradasi sumber daya alam (SDA), kerusakan lingkungan, pemanasan dan perubahan iklim global dan kemiskinan yang terjadi di berbagai tempat sebagai akibat penerapan konsep pembangunan ekonomi yang bersifat eksploitatif yang lebih fokus kepada pertumbuhan ekonomi tanpa menjaga kelestarian modal alam (natural capital) dan modal sosial (social capital). Globalisasi ekonomi dalam perkembangannya terus memacu berbagai dampak yang sangat berbahaya.

Peranan SDM sangat penting dalam menentukan arah pembangunan ke depan, dimana diharapkan bahwa SDM berkualitas akan mampu menciptakan inovasi baru untuk mengeliminasi isu-isu dan dampak negatif yang terus berkembang tanpa terkendali.

Oleh karena itu, maka sistem pendidikan harus terus dikritisi dan segera melakukan inovasi-inovasi secara mendasar. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang didalamnya sebagaian besar terdiri dari pulau-pulau kecil akan sangat rentan terhadap perubahan iklim. Indonesia sudah seharusnya membangun prakarsa dengan jalan mereformasi sistem pendidikan dan politik kebijakan pembangunan yang berbasis pada ekonomi hijau (green economics), khususnya di bidang kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan yang dapat membuat perubahan-perubahan terhadap kurikulum dengan berbasis pada lanskap agroforestri. KEMENDIKBUD, BAPENAS dan universitas besar (IPB, ITB, UGM, UI, UB, ITS, UNAIR, Universitas Swasta dan lainnya) harus mengambil prakarsa dalam perubahan ini, karena produk SDM dari universitas-universitas tersebut akan sangat menentukan arah pengembangan sistem pendidikan dan politik kebijakan pembangunan. Peran UNPATTI dan universitas lainnya yang berada di pulau-pulau kecil seharusnya menjadi pusat kajian untuk menggodok problematika ini sehingga mampu menghasilkan konsep pembaharuan pada sistem pendidikan nasional.

Dari uraian diatas, maka dapat dibangun beberapa permasalahan/pertanyaan kunci sebagai berikut:

  • Mampukah dilakukan perubahan kurikulum secara mendasar untuk menjawab tantangan perubahan lingkungan global?
  • Bagaimana mengkondisikan kurikulum berbasis lanskap agroforestri?
  • Mampukah Universitas Pattimura dan universitas lainnya yang berada di pulau-pulau kecil menciptakan SDM dan metodologi keilmuan berbasis karakter wilayah kepulauan?
  • Dimanakah pembeda yang nyata dalam pengelolaan sistim agroforestri wilayah kontinental dan wilayah kepulauan yang dapat diidentifikasi oleh akademisi/ilmuwan?

Sumber: http://agroforestri.unpatti.org/acara/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s